Selasa, 09 Juni 2015

PEMUDA, WORLD IN YOUR HAND !

Hal yang harus kita lakukan bersama adalah memperbaiki akhlak generasi muda. Sudah begitu banyak nilai Islam yang pudar. Focus pada pemuda-pemudi kita! Bagaimana caranya? Dengan kembali mengajak pemuda-pemudi meneladani kehidupan Rasul. Bagaimana proses tarbiyah Rasul, bagaimana pembentukan dirinya sehingga mampu menjadi pemimpin umat ini bukan hanya di Makkah, tapi bagi seluruh umat yang memercayai ajaran-ajaran yang dibawanya. Tidak seperti pemimpin-pemimpin sekarang ini yang menjadi pemimpin yang thaghut, lalim, zalim…

Karena sesungguhnya realita pemuda masa kini menunjukkan hari esok suatu bangsa, kemajuan dan kehancuran suatu bangsa banyak ditentukan oleh sikap dan peran pemuda.

Ketika roda kehidupan terus berputar dan dunia adalah tempat orang berlalu-lalang, dating dan pergi. Ketika yang rentan menutup mata, tak lagi memiliki andil dalam kehidupan, akankah ia meninggalkan jejak kebaikan? Ibaratkan dunia seperti sebuah istana yang berdiri menaungi umat manusia dan kita tiang-tiang penyangganya. Lalu ketika semakin lama semakin lapuk dimakan usia, satu per satu tiang itu hancur, roboh.

          Saat itu, bukankah harus ada tiang baru sebagai penyangganya? Dan bukankah agar dunia tetap berdiri kokoh, tiang penyangga baru harus sama kuat atau bahkan lebih kuat dari tiang sebelumnya? Sebab, jika tiang itu rapuh, niscaya dunia takkan sanggup berdiri kokoh. Itulah pemuda. Saat dunia kehilangan banyak orang bijaksana, lalu tak ada pemuda yang sanggup menggantikan mereka, siapakah yang menjadi tiang penyangga untuk tetap bertahan dan berjalan bersama kesinambungan alam? Maka tugas pemudalah untuk terus memiliki semangat dan berkemampuan melakukan perubahan.

Tanah kelahiran kami Indonesia begitu kaya, tapi masih banyak kaum papa yang terlantar, anak-anak putus sekolah, penduduk pedalaman yang jauh tertinggal, bergelut dengan kemiskinan yang menyengsarakan. Dan ketika melihat pemudanya, sungguh masih bisa terhitung dengan jari yang berkemauan keras memperbaiki diri dan menatap cerah masa depannya.

Terkadang keinginan tak menemukan jalan. Atau sebaliknya, jalan yang ditemui begitu banyak pilihan dengan tingkat kesulitan nol, namun tak ada kemauan dan kesungguhan. Kejujuran begitu mahal di negaraku, kesenjangan begitu jauh terbentang, kekuasaan segalanya dipakai untuk memojokkan kaum yang lemah. Hukum bisa dibeli dan banyak keadilan dan sanksi yang lahir dalam bentuk kemewahan. Semua berawal dari satu titik fatal yang sungguh membelenggu : korupsi.

Jika keadaan bisa berbalik untuk berpihak kepada kebenaran, negara ini sangat membutuhkan pemuda-pemudi yang antikorupsi, antimafia hukum, anti-kemewah-mewahan, melawan jual beli keadilan, dan terus berusaha untuk melawan segala bentuk kesewenang-wenangan, di mana pun dan dalam keadaan apa pun.

Banyak berita tentang kecurangan ujian nasional di sekolah. Berita tentang seorang ibu yang diusir dari kampungnya karena melaporkan kecurangan guru di sekolah anaknya saat ujian nasional. Mau jujur, kok dimusuhi, dianggap sok suci, astaghfirulllah… Salah satu indikasi akan hancurnya suatu bangsa adalah saat para pemudanya menjadi terbiasa bekerja sama dalam penipuan dan terbiasa melakukan kecurangan.

Syukurnya, beberapa pemuda tangguh yang bahu-membahu memberikan pengaruhnya pada kegemilangan bangsanya juga banyak terlahir di negaraku. Kalau kita sekilas saja mau melihat kembali sejarah terbentuknya bangsa Indonesia hingga sekarang, pemuda memegang peranan penting dalam pembentukan negeri ini. Mulai lahirnya Sumpah Pemuda, Kemerdekaan Republik Indonesia, tumbangnya Orde Baru, serta lahirnya Orde Reformasi, semua adalah perjuangan pemuda. Pemuda seperti Bung Tomo, Ki Hajar Dewantoro, Arif Rahman hakim telah mengukir sejarah kebangkitan pemuda yang berjuang demi negara.

Tugas pemuda salah satunya adalah membawa perubahan. Perubahan tidak mungkin dilakukan oleh para pemuda yang miskin ilmu dan miskin akhlak. Justru ilmu dan akhlakul karimah adalah senjata pemuda untuk melakukan perubahan dan melawan kebatilan. Pemuda yang miskin ilmu dan miskin akhlak, kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin yang thaghut dan zalim. Namun sebalinya, pemuda yang sejak kini telah mencontoh karakter-karakter Rasulullah Saw., maupun para sahabat akan menyingkirkan kezaliman dan menegakkan keadilan, membawa perubahan! Insya Allah…

Semoga kita pun termasuk golongan pemuda-pemudi seperti itu.




Sumber :
Buku Cahaya di Atas Cahaya
Oleh Oki Setiana Dewi

Hal 87-96

Tidak ada komentar: