Hal yang harus kita lakukan bersama adalah memperbaiki
akhlak generasi muda. Sudah begitu banyak nilai Islam yang pudar. Focus pada
pemuda-pemudi kita! Bagaimana caranya? Dengan kembali mengajak pemuda-pemudi
meneladani kehidupan Rasul. Bagaimana proses tarbiyah Rasul, bagaimana
pembentukan dirinya sehingga mampu menjadi pemimpin umat ini bukan hanya di
Makkah, tapi bagi seluruh umat yang memercayai ajaran-ajaran yang dibawanya. Tidak
seperti pemimpin-pemimpin sekarang ini yang menjadi pemimpin yang thaghut, lalim, zalim…
Karena sesungguhnya
realita pemuda masa kini menunjukkan hari esok suatu bangsa, kemajuan dan
kehancuran suatu bangsa banyak ditentukan oleh sikap dan peran pemuda.
Ketika roda
kehidupan terus berputar dan dunia adalah tempat orang berlalu-lalang, dating dan
pergi. Ketika yang rentan menutup mata, tak lagi memiliki andil dalam
kehidupan, akankah ia meninggalkan jejak kebaikan? Ibaratkan dunia seperti
sebuah istana yang berdiri menaungi umat manusia dan kita tiang-tiang
penyangganya. Lalu ketika semakin lama semakin lapuk dimakan usia, satu per
satu tiang itu hancur, roboh.
Saat itu, bukankah harus ada tiang baru sebagai
penyangganya? Dan bukankah agar dunia tetap berdiri kokoh, tiang penyangga baru
harus sama kuat atau bahkan lebih kuat dari tiang sebelumnya? Sebab, jika tiang
itu rapuh, niscaya dunia takkan sanggup berdiri kokoh. Itulah pemuda. Saat dunia
kehilangan banyak orang bijaksana, lalu tak ada pemuda yang sanggup
menggantikan mereka, siapakah yang menjadi tiang penyangga untuk tetap bertahan
dan berjalan bersama kesinambungan alam? Maka tugas pemudalah untuk terus
memiliki semangat dan berkemampuan melakukan perubahan.
Tanah kelahiran
kami Indonesia begitu kaya, tapi masih banyak kaum papa yang terlantar,
anak-anak putus sekolah, penduduk pedalaman yang jauh tertinggal, bergelut
dengan kemiskinan yang menyengsarakan. Dan ketika melihat pemudanya, sungguh
masih bisa terhitung dengan jari yang berkemauan keras memperbaiki diri dan
menatap cerah masa depannya.
Terkadang keinginan
tak menemukan jalan. Atau sebaliknya, jalan yang ditemui begitu banyak pilihan
dengan tingkat kesulitan nol, namun tak ada kemauan dan kesungguhan. Kejujuran begitu
mahal di negaraku, kesenjangan begitu jauh terbentang, kekuasaan segalanya
dipakai untuk memojokkan kaum yang lemah. Hukum bisa dibeli dan banyak keadilan
dan sanksi yang lahir dalam bentuk kemewahan. Semua berawal dari satu titik
fatal yang sungguh membelenggu : korupsi.
Jika keadaan
bisa berbalik untuk berpihak kepada kebenaran, negara ini sangat membutuhkan
pemuda-pemudi yang antikorupsi, antimafia hukum, anti-kemewah-mewahan, melawan
jual beli keadilan, dan terus berusaha untuk melawan segala bentuk
kesewenang-wenangan, di mana pun dan dalam keadaan apa pun.
Banyak berita
tentang kecurangan ujian nasional di sekolah. Berita tentang seorang ibu yang
diusir dari kampungnya karena melaporkan kecurangan guru di sekolah anaknya
saat ujian nasional. Mau jujur, kok dimusuhi, dianggap sok suci,
astaghfirulllah… Salah satu indikasi akan hancurnya suatu bangsa adalah saat
para pemudanya menjadi terbiasa bekerja sama dalam penipuan dan terbiasa
melakukan kecurangan.
Syukurnya,
beberapa pemuda tangguh yang bahu-membahu memberikan pengaruhnya pada
kegemilangan bangsanya juga banyak terlahir di negaraku. Kalau kita sekilas
saja mau melihat kembali sejarah terbentuknya bangsa Indonesia hingga sekarang,
pemuda memegang peranan penting dalam pembentukan negeri ini. Mulai lahirnya
Sumpah Pemuda, Kemerdekaan Republik Indonesia, tumbangnya Orde Baru, serta
lahirnya Orde Reformasi, semua adalah perjuangan pemuda. Pemuda seperti Bung
Tomo, Ki Hajar Dewantoro, Arif Rahman hakim telah mengukir sejarah kebangkitan
pemuda yang berjuang demi negara.
Tugas pemuda
salah satunya adalah membawa perubahan. Perubahan tidak mungkin dilakukan oleh
para pemuda yang miskin ilmu dan miskin akhlak. Justru ilmu dan akhlakul
karimah adalah senjata pemuda untuk melakukan perubahan dan melawan kebatilan. Pemuda
yang miskin ilmu dan miskin akhlak, kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin yang thaghut dan zalim. Namun sebalinya,
pemuda yang sejak kini telah mencontoh karakter-karakter Rasulullah Saw.,
maupun para sahabat akan menyingkirkan kezaliman dan menegakkan keadilan,
membawa perubahan! Insya Allah…
Semoga kita pun termasuk
golongan pemuda-pemudi seperti itu.
Sumber :
Buku Cahaya di Atas Cahaya
Oleh Oki Setiana Dewi
Hal 87-96
Tidak ada komentar:
Posting Komentar